Selasa, 15 Februari 2011

Zat Gizi Mikro untuk Anak Sehat

Hasil terbaru Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 menunjukkan, angka kurang gizi pada balita turun menjadi 17,9% dari sebelumnya 18,4% tahun 2007. Namun demikian, penduduk Indonesia masih menghadapi ancaman masalah gizi mikro, yang biasa disebut kelaparan tersembunyi (hidden hun-get).

"Masalah gizi ini penting untuk menjadi perhatian bersama, baik pemerintah maupun kalangan swasta. Penanggulangan masalah nutrisi masih menjadi PR besar di Indonesia," ujar kordinator gizi Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) Yuli Rimawati, dalam peringatan Hari Gizi Nasional yang digelar PT Sari Husada di Jakarta, baru-baru ini.


Selain tingginya angka gizi buruk dan gizi kurang, lanjut Yuli, masalah kekurangan gizi mikro (micro nutri-ent) masih sering menghadang tumbuh sehatnya anak-anak Indonesia. Zat gizi mikro adalah zat gizi yang diperlukan tubuh dalam jumlah sedikit, namun dapat mengganggu keseimbangan metabolisme bila tidak terpenuhi.

"Permasalahan gizi mikro yang masih banyak ditemui di Tanah Air adalah kekurangan zat besi, yodium, dan vitamin A. Kekurangan zat gizi mikro ini sangat berisiko bagi anak-anak maupun ibu, khususnya yang hamil dan menyusul," kata Boris Bourdin, presiden direktur PT Sari Husada.

Hari Gizi Nasional yang diperingati setiap 25 Januari, lanjutnya, merupakan momentum untuk memikirkan persoalan gizi yang masih menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia. Upaya terbaik dalam mengatasi masalah ini perlu segera dilakukan, termasuk melalui penyediaan produk inovatif serta edukasi.

Ia menjelaskan, salah satu upaya untuk membantu pencegahan timbulnya masalah gizi adalah sosialisasi pola makan gizi seimbang. Gizi seimbang ini sudang menghitung kecukupan zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral. Kebutuhan gizi ini berbeda-beda setiap anak, tergantung pada jenis kelamin, usia, berat dan tinggi badan, serta aktifitasnya.

Gizi seimbang ini dicukupi oleh aneka ragam bahan pangan yang mengandung unsur-unsur zat gizi yang diperlukan tubuh, baik secara kualitas maupun kuantitas. Direktorat Gizi Kementerian Kesehatan pada 1995telah mengeluarkan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS), untuk penyuluhan pangan dan gizi kepada masyarakat luas, guna memasyarakatkan pola gizi seimbang.

Pedoman itu disusun dalam rangka memenuhi salah satu rekomendasi Konferensi Gizi Internasional di Roma tahun 1992. PUGS merupakan penjabaran lebih lanjut dari pedoman "4 Sehat 5 Sempurna", yang memuat pesan untuk pencegahan masalah gizi kurang maupun gizi berlebih, yang dalam 20 tahun terakhir mulai terjadi di Indonesia.

"PUGS merupakan susunan makanan yang menjamin keseimbangan zat gizi. Hal ini dapat dicapai dengan mengonsumsi beraneka ragam makanan setiap hari," imbuhnya.

Tiga Sumber Utama

Setiap makanan itu dapat saling melengkapi, karena mengandung komposisi zat-zat gizi yang berbeda. Saat ini, pengelompokan bahan makanan disederhanakan berdasarkan tiga fungsi utama zat gizi, yakni sebagai sumber energi atau tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur.

Sumber energi diperlukan tubuh dalam jumlah yang lebih besar dibanding sumber zat pembangun dan pengatur. Sedangkan kebutuhan zatpengatur jumlahnya lebih besar dari zat pembangun.

Sumber energi diperoleh dari beras, jagung, sereal atau gandum, ubi kayu, kentang, dan sejenisnya. Zat pengatur diperoleh dari sayur dan buah-buahan, sedangkan zat pembangun antara lain diperoleh dari ikan, telur, ayam, daging, susu, dan kacang-kacangan.

"PUGS memuat 13 pesan dasaryang dapat digunakan masyarakat sebagai pedoman untuk mengatur makanan sehari-hari yang seimbang dan aman, guna mencapai dan mempertahankan status gizi dan kesehatan yang optimal," imbuhnya.

Ia menambahkan, upaya pemenuhan gizi anak usia dua hingga lima tahun dapat dilakukan melalui pemberian suplemen makanan yang inovatif, yang mengandung multivita-min dan mineral yang dibutuhkan. Konsumsi ini dapat membantu menyeimbangkan gizi dengan pemenuhan kebutuhan semua nutrisi penting.

"Suplemen atau makanan tambahan itu harus diproduksi melalui proses fortifikasi, yakni penambahan satu atau lebih zat gizi mikro," jelas Boris.

Hal itu. lanjut Boris, merupakan strategi penting untuk meningkatkan status zat gizi mikro di dalam makanan. Cara ini membuat produk dapat dijual dalam kemasan sachet dengan harga terjangkau.

"Penting juga dilakukan edukasi yang dikemas secara menarik untuk ibu dan anak-anak. PAUD atau Pendidikan Anak Usia Dini perlu dilakukan untuk pemahaman mengenai pentingnya gizi bagi tubuh," papar Naomi Jamarro, brand manager Gizikita.

Menurut Naomi, kegiatan yang dikemas dengan menarik dan menghibur itu lebih mengena dan diingat pesannya oleh para peserta. Dengan demikian, pengetahuan mengenai pentingnya gizi bagi tubuh selanjutnya bisa diaplikasikan dalam masyarakat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar